Ads block

Banner 728x90px

Courses

6-latest-350px-course

Section Background

Section Background

Search This Blog

Contact us-desc:Feel free to contact us at anytime about our courses and tutorials.

Nama

Email *

Pesan *

Sections

Campus

4-tag:Campus-500px-mosaic

Testimonials

3-tag:Testimonials-250px-testimonial

Logo

Logo
Logo Image. Ideal width 300px.

Section Background

Section Background
Background image. Ideal width 1600px with.

Section Background

Section Background
Background image. Ideal width 1600px with.
Langsung ke konten utama

Latest video-course

1-tag:Videos-800px-video

Sejenak


Akhir-akhir ini banyak hal yang menyadarkan diri, membangunkan dari sekian banyak mimpi yang seakan mengganggu, walau terlihat indah sekali pun. 

Kurasa tak perlu terlalu panjang lebar, suatu hari seorang siswa datang kepadaku, dengan penuh keluh kesah tentang hidup dan keluarga nya. Ketika mendengar banyak hal darinya, saat itu juga yang pertama kali aku lakukan adalah mencoba memahami menjadi posisinya, kemudian mencoba memberikan motivasi dan semangat. 

Saat itu pun rasanya tidak ada dampak apa-apa yang terlihat, entah karena masih banyak yang belum ia keluarkan atau apa yang kulakukan belum cukup baginya. Aku merasa sudah melakukan sebisanya. 


Sampai beberapa hari kemudian, ia menjadi topik pembahasan guru-guru dalam rapat, banyak hal yang semakin merosot darinya. Aku terdiam. Satu-satunya yang kupikirkan adalah apakah aku sedang gagal?. 


Sampai beberapa hari terdiam di sudut sekolah, mencoba memikirkan apa yang salah? Kembali memposisikan diri sebagai siswa. Jika aku menjadi dia, apa yang akan kulakukan untuk bisa bangkit?. 


Kemudian, pikiranku beranjak ke sebuah titik dimana aku berada di "zero zone" or feel nothing. Kasusnya sama masalah konteks keluarga. Aku tak membedakan setiap parameter, yang lagi-lagi hanya terlintas adalah, "apa yang akan aku lakukan untuk bisa bangkit". 


Kemudian aku mencoba menelaah dan dalam posisi saat aku dahulu, bila aku terus merasa lelah dan lemah, merasa tidak berdaya, merasa gagal dalam hidup, yang terjadi adalah prestasi yang surut, intimidasi low self esteem yang ekstrem sampai "mengakhiri hidup" seakan jadi sebuah jalan yang berdiri pada garda paling depan untuk bisa lepas dari semua beban hidup. 


Kembali aku berpikir, lalu apa? Kapan aku benar-benar bangkit? So I got the poin. 

Bahkan sejujurnya sampai saat ini pun aku belum benar-benar bangkit. Aku masih merasa hidup tidak adil, sama seperti siswa yang datang padaku. Dia merasa tak seorang pun mengerti dirinya, semua palsu. Hal yang sering menggelitik hati manusia untuk tidak sadar, bahwa sejauh ini Tuhan sendiri yang sedang bekerja di dalamnya. 


Aku, dia bahkan semua orang seperti nya melihat kepada deficit based, bukan strength. Bukan bermaksud mengesampingkan kepekaan dan area sensitifitas hati. Namun, coba lihat kembali, sejauh dengan banyaknya kelemahan, dengan banyaknya kekurangan, bukankah pasti ada kelebihan? Bahkan Tuhan juga bukan menggunakan kelebihan, tapi dalam kelemahan Tuhan bisa bekerja mendatangkan kebaikan. 


So,what's next? Aku kembali berpikir, apa yang aku sudah miliki saat ini, ada saat aku seharusnya bisa bersyukur dengan sepenuh hati. Sepenuh hati. Terimakasih Tuhan, untuk keluarga yang tak sempurna, namun aku masih bisa merasakan kasih dan kedamaian di tengah mereka. Terimakasih Tuhan untuk pekerjaan yang sangat berat dan menguras tenaga, namun aku masih bisa merasakan sukacita-sukacita kecil di tengah pembelajaran dan aku merasa bermanfaat bagi anak-anak ku. Terimakasih Tuhan untuk komunitas yang tak sempurna, tetapi lewat mereka aku jadi tau apa yang menjadi hal yang harus aku perbaiki dalam diriku. Dan terimakasih untuk beban yang sangat banyak, tetapi aku bisa berlatih memperkuat diri dan mentalku. 


Dalam hidup, bahkan saat merasa stagnat atau bahkan merosot seperti sebuah saham yang terjun bebas, Ayub seorang tokoh Alkitab mengajarkan bahwa tak ada yang bisa kita miliki, dan junjung terlalu tinggi dalam hidup kita selain daripada Tuhan. Bahkan mungkin Tuhan sedang ingin kita berdiam diri saja, karena mungkin terlalu banyak orang yang berakhir pada pelayanan berjasa. Artinya merasa sudah melakukan banyak hal untuk Tuhan, padahal dalam diri sedang mencuri kemuliaan Tuhan. 


Hari-hari Tuhan membuat banyak kondisi dimana mungkin kita perlu menilik hati kita, diam saja sejenak, memikirkan kemana arah tujuan sebenarnya. Karena kembali lagi, tanpa tujuan yang jelas,kita mungkin tidak bisa berjalan, berjalan pun akan penuh ketakutan, dan sudah berjalan bisa saja tersesat dan berputar2.Akhirnya lelah karena sudah banyak tenaga yang habis sia-sia. Coba pikirkan tujuan, tujuan dan tujuan. Setelahnya baru pikirkan bagaimana cara. 


Ditambah dengan hati yang childlike, yang mau dengan polos berterimakasih bahkan pada hal kecil sekalipun. Sebuah permen ditengah banyaknya teman yang sedang menikmati potongan-potongan steak. 


Komentar