Dear Diary,
Hari ini benar-benar tidak bersahabat. Pagi ini, Mamah sakit. Perutnya yang sangat menyakitkan membuat mamah menangis. Bahkan mamah tak sanggup berdiri. Hal ini menguras air mataku dimana aku selalu tak tahan melihat mamah menangis. Rasa sakit itu, seakan menyerangku juga. Apalagi papah yang semakin lama semakin menjadi. Papah bahkan selalu mementingkan peliharaannya daripada kami. Andai aku bisa melawan, aku akan melawan. Tapi apa daya, aku selalu tak bisa. Terkadang hal ini membuatku stress dan berdiam diri di kamar. Aku ingin melepas semua bebanku. Tapi, aku selalu tak bisa.
Pagi tadi, ayah membawa Mamah ke Rumah sakit. Adikku menangis tak karuan. Lagi-lagi aku menangis melihat adikku. Semua merubahku. Aku ingin membalas semua orang yang tidak pernah mengerti keadaanku. Ntahlah, aku seakan selalu membenci. Saat Mamah pergi, aku merawat adikku bersama dengan kakakku. Namun keadaan selalu tidak mendukung. Aku sangat sedih. Semua hancur. Hingga akhirnya aku kebaktian dikamar mamah. Aku berdoa, agar mamah sembuh dan keluarga kami bisa hidup damai.
Malam ini aku membuka facebook. Tetapi lagi-lagi keadaan tidak mendukung. Teman tinggallah teman. Aku bahkan tak tau lagi apa yang harus kuperbuat. Aku tidak mau kalah oleh keadaan. Aku berjanji, suatu saat tangisanku akan berubah menjadi tawa. Aku berjanji
Hari ini benar-benar tidak bersahabat. Pagi ini, Mamah sakit. Perutnya yang sangat menyakitkan membuat mamah menangis. Bahkan mamah tak sanggup berdiri. Hal ini menguras air mataku dimana aku selalu tak tahan melihat mamah menangis. Rasa sakit itu, seakan menyerangku juga. Apalagi papah yang semakin lama semakin menjadi. Papah bahkan selalu mementingkan peliharaannya daripada kami. Andai aku bisa melawan, aku akan melawan. Tapi apa daya, aku selalu tak bisa. Terkadang hal ini membuatku stress dan berdiam diri di kamar. Aku ingin melepas semua bebanku. Tapi, aku selalu tak bisa.
Pagi tadi, ayah membawa Mamah ke Rumah sakit. Adikku menangis tak karuan. Lagi-lagi aku menangis melihat adikku. Semua merubahku. Aku ingin membalas semua orang yang tidak pernah mengerti keadaanku. Ntahlah, aku seakan selalu membenci. Saat Mamah pergi, aku merawat adikku bersama dengan kakakku. Namun keadaan selalu tidak mendukung. Aku sangat sedih. Semua hancur. Hingga akhirnya aku kebaktian dikamar mamah. Aku berdoa, agar mamah sembuh dan keluarga kami bisa hidup damai.
Malam ini aku membuka facebook. Tetapi lagi-lagi keadaan tidak mendukung. Teman tinggallah teman. Aku bahkan tak tau lagi apa yang harus kuperbuat. Aku tidak mau kalah oleh keadaan. Aku berjanji, suatu saat tangisanku akan berubah menjadi tawa. Aku berjanji




Komentar
Posting Komentar